Pasukan Khusus Polri Dilatih CIA

densus-88

Untuk mengatasi gangguan teroris di Indonesia, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dikabarkan membentuk pasukan khusus bertajuk Detasemen 88 atau disebut juga Delta 88. Anggotanya dilatih CIA, FBI, dan Secret Service.

Pembentukan pasukan khusus ini merupakan hadiah dari pemerintah Amerika Serikat (AS) atas kerja keras Polri mengungkap kasus bom Bali dan bom Marriot. Namun Mabes Polri membantah tegas berita pembentukan pasukan khusus itu.

Seperti dilansir majalah Far Eastern Economic Review (FEER) edisi 13 November 2003, Polri tengah menyiapkan pasukan khusus setara dengan Paskhas (TNI AU), Koppasus (TNI AD) dan Marinir (TNI AL). Delta 88 dirancang sebagai unit antiteroris yang memiliki kemampuan mengatasi gangguan teroris mulai ancaman bom hingga penyanderaan. Unit khusus berkekuatan sekitar 400 personel itu diperkirakan efektif beroperasi pada tahun 2005.

Saat ini, sejumlah personel Polri masih mengikuti pelatihan yang diadakan oleh pemerintah AS. Para personel Polri yang terpilih menjadi anggota pasukan khusus itu dilatih oleh personel maupun pensiunan CIA, Secret Service maupun FBI. Sejauh ini, baru ada sembilan personel Polri yang dinyatakan lulus dan memenuhi kualifikasi sebagai anggota Detasemen 88. Mereka terdiri dari masing-masing tiga personel yang memiliki keahlian investigasi, unit pemukul serta penjinak bom.

“Sebenarnya polisi sudah lama membentuk tim negosiator. Tapi negosiator ini belum bisa menangani kasus berat,” papar analis militer AS yang dikutip FEER. Biaya yang dibutuhkan untuk membangun Detasemen 88 mencapai sekitar Rp 150 miliar. Pembentukan pasukan khusus ini dibantu sepenuhnya oleh pemerintah AS, mulai pendanaan, pelatihan hingga penyediaan peralatannya. Pemerintah AS mau merogoh kantongnya untuk membantu setelah melihat kerja Polri dalam mengungkap kasus bom Bali dan Marriot.

Namun, pemerintah AS tampaknya memberlakukan syarat yang cukup ketat bagi personel Polri yang dicalonkan menjadi personel Delta 88. Syarat utamanya adalah bebas pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Atas dasar itu, anggota Polri yang pernah bertugas di (bekas) Timor Timur tidak diperkenankan menjadi anggota Delta 88.

Dana sebesar Rp 150 miliar yang dikucurkan pemerintah AS itu antara lain digunakan untuk pembelian properti berupa peralatan komunikasi antiradar, kamera yang dapat menembus kegelapan serta senjata model Heckler dan Koch Mp5 dan Remington 700. Untuk mobilitas, unit khusus ini dilengkapi sebuah pesawat angkut khusus jenis C-130.

Kepala Bidang Penerangan Umum (Kabidpenum) Divisi Humas Polri, Kombes Zainuri Lubis menyangkal berita FEER itu. “Kami juga tidak tahu dari mana mereka bisa membuat berita seperti itu. Tidak ada anggota Polri yang mengikuti pelatihan untuk membentuk Detasemen 88,” tegas Zainuri ketika dihubungi Selasa (11/11) siang. Menurut Zainuri, dalam menangani kasus-kasus terorisme, Polri mengerahkan segala kemampuan dan sumber daya yang dimiliki.

Sebelumnya, akhir pekan lalu, Kapolri Jenderal Pol Da’i Bachtiar juga telah membantah berita majalah FEER itu. Da’i menyatakan, pemerintah Indonesia memang memiliki kerja sama dengan pemerintah AS dalam hal pendidikan bagi aparat kepolisian. Setiap tahun, Polri mengirimkan personelnya dalam enam gelombang ke negeri Paman Sam untuk mengikuti pelatihan. Setiap gelombang, terdiri dari 24 perwira.

Sumber : Kompas.co.id

Advertisements
Posted in Indonesia. Comments Off on Pasukan Khusus Polri Dilatih CIA
%d bloggers like this: